(catatan Roundtable Discussion dengan masyarakat nano di Indonesia di IPB International Convention Center)
Keberadaan nanoteknologi memicu pengembangan produk baru dan aplikasi yang luas dalam berbagai sektor. Nanoteknologi telah melahirkan gelombang revolusi industri dan pengembangannya telah membuka pasar industri bernilai multimilyar dolar dan diperkirakan mencapai US$ 1 trilyun pada tahun 2015 dengan serapan 2 juta pekerja nanoteknologi.
Nanoteknologi diyakini sebagai sebuah konsep teknologi yang akan melahirkan revolusi industri baru di abad ke-21. Beberapa cabang ilmu terapan dan medis mengadopsi nanoteknologi dan nanosains menjadi fondasi utamanya," kata Nurul Taufiqu Rochman Ketua Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI). Oleh karenanya, berbagai negara di dunia, terutama negara-negara maju, berusaha keras melakukan berbagai strategi penguasaan dan pengembangan nanoteknologi. Strategi pengembangan nanoteknologi pada masing-masing negara tersebut, umumnya mengacu pada kompetensi negaranya.
Sebagai langkah strategis menyongsong era nano teknologi, Badan Litbang Pertanian menyelenggarakan roundtable discussion dengan Masyarakat Nano Indonesia di IPB International Convention Center, Bogor, 5 Mei 2011 pukul 19.00 – 22.00 dalam rangka pengembangan nanoteknologi untuk pangan dan pertanian di Badan Litbang Pertanian. Acara tersebut diisi dengan serangkaian diskusi dan tanya jawab yang melibatkan para pakar, peneliti dan pejabat struktural lainnya.
Diskusi dihadiri oleh Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Haryono dan diikuti oleh Kepala UK/UPT Lingkup Badan Litbang Pertanian dan beberapa peneliti/calon peneliti bidang nanoteknologi. Ketua Masyarakat Nano Indonesia Dr. Nurul Taufiqu Rochman hadir bersama Ketua Divisi Nano Farmasi dan Kesehatan MNI, Dr. Etik Mardliyati dan beberapa koordinator harian MNI. Mengawali acara, Kepala BB-Pascapanen Ir. Rudy Tjahjohutomo, MT menyampaikan pengantar mengenai rencana pembangunan laboratorium nano untuk pangan dan pertanian serta pengiriman peneliti BB-Pascapanen untuk mengikuti training nanoteknologi yang diselenggarakan oleh Nanotech Indonesia sebagai inisiasi pengembangan nanoteknologi di Badan Litbang Pertanian.
Ketua MNI menyampaikan presentasi Status Terkini dan Trend Penerapan Nanoteknologi di Sektor Pertanian. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan nanoteknologi, kondisi terkini pengembangan nanoteknologi di Indonesia beserta peluang dan tantangannya, produk pangan dan pertanian berbasis nanoteknologi yang sudah beredar di Indonesia, serta pemanfaatan nanoteknologi berbasis sumber daya alam pertanian. Pengembangan produk nano berbasis pertanian memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan produk lain (contoh: produk elektronik). Produk nano-pertanian memberikan nilai tambah produk pertanian dan meningkatkan daya saing bangsa karena Indonesia memiliki sumber daya alam pertanian yang melimpah dan tidak banyak dimiliki oleh negara lain.
Kepala Badan Litbang Pertanian menyampaikan arahan agar pengembangan nanoteknologi untuk pangan dan pertanian tetap mengacu pada 4 target sukses pembangunan pertanian, yaitu swasembada berkelanjutan, diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, serta peningkatan kesejahteraan petani. Untuk itu diperlukan pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui program jangka pendek dan panjang. Dalam jangka pendek, UK/UPT dapat mengirimkan penelitinya untuk mengikuti training dan short course nanoteknologi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Untuk jangka panjang, UK/UPT dapat mengirimkan para peneliti terutama peneliti muda untuk sekolah S2/S3 bidang nanoteknologi pangan dan pertanian di dalam maupun di luar negeri (peneliti yang berstatus CPNS diperbolehkan untuk mengikuti program ini).
Tercatat dalam diskusi yang dipandu oleh Prof. Kusumo Diwyanto, bahwa UK/UPT Lingkup Badan Litbang Pertanian sebagian besar sudah mulai mengembangkan penelitian dengan pendekatan nanoteknologi, namun fasilitas dan peralatan yang dimiliki belum memadai. Beberapa penelitian yang mulai dikembangkan diantaranya adalah pupuk cair dengan partikel nano, pupuk slow release dengan coating polimer nano, vaksin nanoemulsi untuk aplikasi spray, mikro/nanoemulsi medium chain trigliserida, nanoemulsi pewarna, membran mikrofiltrasi dan lainnya. Beberapa peserta menyampaikan concern-nya terhadap safety issues partikel nano bagi kesehatan dan lingkungan.
MNI menyambut baik apa yang telah dilakukan UK/UPT Badan Litbang Pertanian dalam merintis penerapan nanoteknologi sebagai salah satu pendekatan dalam penyelesaian masalah bidang pangan dan pertanian. MNI siap memberikan dukungan fasilitas/peralatan penelitian melalui kerangka kerja sama. Hal-hal yang berhubungan dengan aspek keamanan partikel nano terhadap kesehatan dan lingkungan dipertimbangkan dengan mengacu pada standar yang diterapkan pada komponen dalam bentuk makronya (Contoh: SNI kemasan tidak memperbolehkan adanya bahan-bahan berbahaya dalam komponen penyusun kemasan).
Kepala Badan Litbang Pertanian menyatakan bahwa Badan Litbang Pertanian akan go for nanotechnology untuk pangan dan pertanian dan mengharapkan dukungan MNI dalam pengembangan laboratorium dan sumber daya manusianya. Badan Litbang Pertanian akan menciptakan image baru (new brand) untuk istilah ‘litbang’ dimana aspek ‘penelitian’ akan didekati dengan istilah science based activities, dan aspek ‘pengembangan’ diistilahkan sebagai impact based activities. Kedua aspek tersebut akan diperkuat secara bersamaan sehingga Badan Litbang Pertanian akan menghasilkan publikasi ilmiah dan produk hasil penelitian sebagai salah satu bentuk recognition-nya.
Acara diakhiri dengan penandatanganan Naskah Kesepakatan Kerja Sama antara BB-Pascapanen (sebagai koordinator pengembangan nanoteknologi di Badan Litbang Pertanian) dengan MNI. Penandatanganan dilakukan oleh Kepala BB-Pascapanen, Ketua MNI dan Kepala Badan Litbang Pertanian. Lingkup kerja sama tersebut adalah kegiatan penelitian dan pengembangan, pengembangan sumber daya manusia dalam rangka meningkatkan penguasaan iptek, pengembangan laboratorium dan sarana pendukungnya serta pengembangan networkkerja sama dengan sesama pelaku pengembangan nanoteknologi dan industri. Kerja sama direncanakan akan dilaksanakan selama 3 tahun.

0 komentar:
Posting Komentar